Kirana sedang kelabu. Hari-harinya kini tak lagi dihiasi senyum indah dan ceria seperti biasanya. Memang benar Kirana sedang punya masalah. Ya.. apalagi kalau bukan masalah perasaan.
Kirana adalah seorang gadis yang tidak terlalu cantik. Mungkin bisa dibilang tidak cantik diantara teman-teman sepermainannya. Banyak orang yang bilang bahwa Kirana itu dingin dan jutek tampangnya, apalagi kalau belum kenal, jadi banyak yang sungkan untuk kenalan duluan dengan Kirana. Kirana berasal dari kota besar, tapi orang tuanya selalu mendidiknya dengan budaya daerah asalnya yang sangat kental sehingga Kirana mejadi sangat ‘pribumi’. Kirana tidak pernah memilih-milih teman dan sangat menyayangi teman-temannya. Karena rasa sayang yang begitu besar terhadap teman, terkadang Kirana merasa cemburu dengan temannya sendiri.
Semua ini berawal saat kampus Kirana mengadakan acara besar dan Kirana merupakan salah satu panitia di acara tersebut. Hari itu, Kirana sedang bertugas ditemani Bram, Reza, dan Anton, teman terdekatnya. Kirana dan ketiga temannya ini selalu bersama sepanjang acara tersebut. Mereka ada di panggung utama untuk menonton pertunjukan musik. Dan kebetulan Kirana ditempatkan di panggung utama sebagai panitia dokumentasi. Saat itu, band yang tampil memang masih belum seru, jadi Kirana dan teman-teman memutuskan keliling area kampus untuk melihat berbagai stand yang tersedia.
Tidak berapa lama, Kirana meninggalkan ketiga temannya untuk kembali bertugas. Dan setelah penampilan dari sebuah band selesai, Kirana yang memang setiap hari terbiasa bersama ketiga sahabatnya ini menanyakan keberadaan mereka. Tapi yang kembali ke panggung utama hanyalah Reza dan Anton. Bram kemana? Bram tidak mungkin melakukan hal seperti keliling-keliling sendiri. Dengan siapa Bram sekarang? Kirana yang memikirkan Bram memutuskan untuk mencari Bram ditemani Anton sedangkan Reza izin untuk pulang duluan karena ada acara keluarga.
Di salah satu spot acara, Kirana melihat Bram sedang sibuk ngobrol dengan Margareth. Margareth juga merupakan salah satu panitia acara ini, tapi beda divisi dengan Kirana. Kirana yang sedang bersama Anton menghampiri Bram dan Margareth. Kirana agak sedikit kaget karena tiba-tiba Bram sudah mengenakan baju panitia. Memang awalnya Bram dan Kirana mendapat satu divisi yang sama pada saat pendaftaran panitia, tapi Bram memutuskan tidak mengikuti kepanitiaan itu lagi karena malas. Dan, oh.. ternyata Bram mendapat kaos tersebut dari Bobby, si kepala divisi dokumentasi.
Sejak awal Kirana kenal dengan Margareth di bangku kuliah, Kirana memang merasa ada yang lain dari tatapan mata Margareth kepada Bram. Seperti mengharapkan hubungan yang lebih dari sekedar teman. Tidak hanya Kirana yang merasa seperti itu, teman-temannya juga merasakan hal yang sama. Padahal kami tahu bahwa Margareth sudah beberapa tahun berpacaran dengan Dwiky, yang keadaannya sekarang adalah long distance relationship antara Margareth-Dwiky.
Kirana tidak mau berburuk sangka terhadap Margareth karena memang keduanya adalah teman main bersama. Karena ingin melihat-lihat stand, Kirana memberikan kameranya kepada Bram yang memakai kaos panitia supaya tidak terlalu terlihat ‘gabut’ dan pergi mengelilingi stand dengan Anton. Tapi selama mengitari spot-spot acara, pikiran Kirana tidak pernah lepas dari Bram. Kirana selalu memikirkan apakah Bram melakukan pekerjaan dadakannya sebagai ‘panitia’, kemana Bram pergi, apa yang dibicarakan oleh Margareth kepada Bram, pokoknya semua pikiran Kirana dipenuhi oleh Bram karena sejak di jurusan mereka memang selalu bersama-sama kapanpun dan dimanapun. Kalau ada yang bertanya Bram ada dimana, pasti teman-teman menanyakannya kepada Kirana, begitu juga sebaliknya. Sangat dekat dan tidak terpisahkan.
Sampai pada akhirnya acara puncak dengan guest star di panggung utama dimulai. Kirana harus mengambil gambar sang guest star untuk dokumentasi. Tapi… Kirana tidak memegang kamera! Kameranya ada di Bram. Karena percaya kepada Bram, Kirana hanya menghubungi Bram melalui messenger dan meminta Bram untuk mengambil gambar guest star di panggung utama. Bram mengiyakan. Ya.. lumayan juga lah, kan Bram lagi pakai baju panitia, sekalian saja disuruh kerja. Semoga foto-fotonya bagus deh.
. . . . . .
Penampilan guest star memang yang paling ditunggu-tunggu oleh pengunjung yang datang. Walaupun artis ini belum begitu populer, tapi suaranya benar-benar enak didengar sampai-sampai Kirana ingin langsung beli albumnya. Ditambah pula dengan aliran jazz yang memang paling tepat deh untuk cuaca mendung berangin, pas banget buat galau. Apalagi galau bareng Reza, Anton, dan Bram. Tunggu…. Bram! Bram!! Bram kemana ya? Apa Bram mengambil gambar dari guest star yang ini? Dimana dia sekarang?
Anton yang sejak tadi terus menemani Kirana mengajak Kirana untuk mencari Bram. Mereka menyusuri tempat-tempat yang masih ramai dan juga spot-spot yang banyak panitia. Sebagai panitia ‘beneran’, Kirana merasa punya tanggung jawab terhadap pekerjaannya. Tapi ‘senjata’nya sedang dipegang orang lain di saat yang cukup penting seperti sekarang ini. Kirana benar-benar merasa bodoh dan panik saat itu. Bukan karena masalah kepercayaan, tapi lebih karena rasa tanggung jawabnya sebagai pemegang resmi-anti-gabut ID card panitia acara. Anton berusaha menenangkan Kirana, tapi Kirana tetap tidak bisa tenang sebelum mengetahui bagaimana nasibnya sekarang setelah tadi memberikan kameranya kepada Bram.
Dari ujung mata Kirana, terlihat siluet seorang pria dan wanita sedang duduk berdua di basecamp panitia dan sedang tertawa-tawa. Dan.. oh! Itu Bram dan Margareth!! Kirana yang sejak ditinggal Bram terus memikirkan Bram, marah. Kirana tidak sudi menghampiri mereka karena mereka terlihat sedang asyik tertawa. Sepertinya mereka sudah berada disana sejak tadi, artinya, Bram yang memegang kamera Kirana tidak ada di panggung utama saat guest star sedang tampil. Kirana meminta Anton untuk menghampiri Bram dan mengembalikan kamera Kirana.
Setelah diperiksa, ternyata benar Bram tidak mengambil gambar sang penyanyi. Hanya ada beberapa potongan gambar yang diambil dari jauh dan tidak jelas. Kirana menyesal kenapa dia menyerahkan kameranya kepada Bram tadi. Yang lebih membuat Kirana sedih adalah kalau memang Bram tidak ingin melakukan dokumentasi, kenapa dia tidak menyerahkan kameranya ke Kirana saja? Kenapa tadi Bram mengiyakan permintaan Kirana? Toh itu juga bukan kewajiban Bram untuk mengambil gambar, melainkan kewajiban Kirana. Dan Bram silahkan saja bercengkrama ria dengan Margareth di ruang santai ini.
Kirana kesal. Kesal karena pekerjaannya terbangkalai, kesal karena merasa dirinya bodoh, kesal karena melihat Bram bersama Margareth dan mengacuhkan Kirana dan Anton. Anton terus bertanya ada apa dengan Kirana tetapi Kirana terus berkilah bahwa ia kesal karena tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai tim dokumentasi. Anton berusaha mengibur Kirana. Tapi kirana berbohong. Sebenarnya yang membuat Kirana kesal berlarut-larut adalah karena Bram yang menganggap Kirana tidak ada saat bersama Margareth. Tapi Kirana tidak mungkin bilang hal itu kepada Anton.
Semenjak saat itu, Kirana hanya diam. Kirana tidak lagi menyapa Bram. Kirana hanya ingin berinteraksi dengan Bram jika Bram menghubunginya duluan. Kirana sedih. Mungkin orang-orang berpikir Kirana cemburu. Tapi kirana tidak menyetujuinya. Kirana berpikir bahwa dirinya bukan cemburu, Kirana hanya tidak suka melihat salah satu sahabat yang paling disayangnya mengacuhkan dia pada saat sedang bersama orang lain.
Sekarang Kirana dan Anton semakin dekat. Tapi apa yang Kirana rasakan terhadap Anton berbeda. Sayang Kirana kepada Bram, Anton, dan Reza memang sama sebagai teman. Tapi sejak awal Kirana lebih sering bersama Bram dan Bram sangat mengerti Kirana. Bram adalah orang yang paling perhatian kepada Kirana dibanding Anton dan Reza. Kirana selalu memikirkan Bram, apalagi tentang akademiknya. Kirana lebih memperhatikan Bram karena seharusnya Bram bisa mendapat nilai akademik yang lebih bagus, hanya saja Bram masih suka terpengaruh lingkungan yang kurang mendukung. Sedangkan Anton dan Reza memang sudah lebih dewasa daripada Bram mengenai hal seperti ini. Kirana yakin hal tersebutlah yang membuat ia merasa memiliki tanggung jawab lebih kepada Bram sebagai seorang teman. Tapi untuk memberikan perhatian lebih kepada Reza dan Anton, Kirana sudah berusaha keras mencobanya dan tetap tidak berhasil.
Sekarang, sudah lebih dari dua minggu Kirana “berpisah” dengan Bram. Kirana rindu dengan Bram. Kirana rindu membangunkan Bram pagi hari, menjawab telepon dari Bram, belajar bersama, makan bareng, duduk berdampingan, diajak pergi berdua dengan Bram, membicarakan hal bodoh, menghubungi Bram dan hanya bertanya “Bram, lagi apa?”, dan semua kebiasaan-kebiasaan yang biasa Kirana lakukan dengan Bram. Akhir-akhir ini Bram sibuk dengan kegiatan organisasi yang menurut Kirana kurang penting untuk Bram. Tapi Bram pun tidak berusaha untuk menyapa Kirana karena mungkin sudah bosan dengan sifat Kirana jika sedang ‘marahan’ seperti ini. Untuk belajar, sekarang Bram lebih suka mengajak Vita yang memang lebih pintar. Namun bisa dibilang, teman-teman angkatan menganggap kalau setiap hari Kirana bisa tersenyum karena ada Bram bersamanya. Tapi sekarang senyum yang terbentuk dari wajah Kirana hanyalah senyum kelabu. Senyum yang dibuat-buat agar tetap menjaga perasaan teman-teman yang lainnya.
Mungkin ini semua salah Kirana yang membuat Bram bosan dengannya. Tapi apa yang dilakukan Kirana adalah benar-benar dari hati Kirana untuk Bram. Kirana hanya tidak ingin sahabatnya melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Sampai saat ini, Kirana dan Bram masih terlihat seperti orang yang baru kenal satu sama lain. Padahal Kirana sudah bosan dengan keadaan ini tetapi agaknya Bram sudah lebih dulu jenuh dengan Kirana. Semua yang ingin Kirana lakukan untuk Bram dirasa Kirana serba salah. Itulah yang membuat hubungan Kirana dan Bram menjadi dingin dan kaku sekali. Jauh di dalam hatinya, Kirana benar-benar sangat merindukan kebersamaan dirinya dengan Bram.
Maafkan Kirana, Bram..

0 comments:
Post a Comment